Perayaan Indonesia Merdeka 2018


Sejak di bangku sekolah menengah pertama jiwa nasionalis ku mulai tumbuh itu di sebabkan aku aktif bergabung sebagai anggota marching band Anggita Nagari salah satu ekstra kulikuler terbaik di sekolah ku masa itu. Melalui seleksi ketat aku lolos dan memegang posisi gambang, memang sejak aku lulus SD dan berniat melanjutkan sekolah di SMP ku ini dan aku berkeinginan bisa menjadi anggota marching band lalu berharap bisa memegang posisi keyboard yang menurutku ini posisi penting kedua setelah mayoret. Mungkin karena kepandaian ku menghafal not dengan cepat sehingga tidak butuh waktu lama aku mendapatkan posisi pemegang keyboard. Jadwal latihan rutin diadakan seminggu sekali atau dua kali seminggu jika akan ada event pernikahan atau upacara di hari-hari besar.

Nah di upacara hari besar seperti HUT RI ini kita di gembleng dari segi mental, fisik juga kemapuan menghafal beberapa lagu dan iringan musik wajib yang tertera di upacara tersebut, gambaran besar penampilan marching band ku kala itu mirip – mirip di istana Negara hehe mulai dari tanda kebesaran buka – tutup hingga andika  bahayangkari, aku sudah merasakan rasa dagdigdug sebagai mengiring lagu pengibaran bendera di upacara HUT RI se-kecamatan singosari itu seperti apa dan aku tau bagaimana rasanya menjadi sorotan ribuan orang kala itu juga seperti apa, berhati-hati dan tetap focus supaya tidak salah pencet not, terlihat santai meski sebenarnya gerogi engga karaun. Menyaksikan kekhikmatan ribuan orang mengikuti upacara HUT RI dalam satu tempat yang sama. Rasa bangga bisa menjadi bagian penting upacara bendera meski hanya tingkat kecamatan itulah yang menumbuhkan jiwa nasionalisku

Mungkin karena keterlibatanku di setiap upacara apapun sehingga rasa itu muncul, hal yang membuatku merinding dan berkaca-kaca saat upacara adalah saat mengeheningkan cipta terlebih saat Pembina upacara mengucapkan “Mengheningkan cipta untuk seluruh jasa para pahlawan”, sembari mendengarkan iringan musik pikiranku melayang layang terbang membayangkan perjuangan pahlawan melawan penjajah di masa lalu.

Selain mejadi anggota marching band aku juga pernah menjadi pemimpin pleton upacara di sekolah dan kebiasaan itu berlanjut sampai SMA, bahkan di masa itu aku tergabung di pasukan Paskibraka. Tinggi badan yang tidak memenuhi menjadikan ku petugas pembaca UUD 1945, tapi tetap saja aku mengikut segala proses latihan layaknya pasukan 17, 8 dan 45, suara khas pembaca UUD 1945 layaknya di istana Negara dan baju kebesaranpaskibrakan menjadikan aku lebih bangga menjadi warga Indonesia. Mulai semakin paham dan mengerti betapa besar pengorbanan para pahlawan terdahulu untuk Indonesia dan kita yang saat ini bertugas hanya mengharagai jasanya mengapa merasa sulit ?

Aku berupaya tidak hanya menghargai jasa para pahlawan tapi aku mencoba untuk meneruskan trasidi-trasidi ini, sebab itulah hingga di usia 24 tahun ini aku masih di sibukkan dengan kegiatan kepemudaan di area tempat tinggalku. Sejak awal bulan agustus aku dan seluruh pemuda sudah disiebukkan dengan kegiatan perayaan agustasan hingga berakhir di tangal 31 agustus. Jujur saya hal yang aku tunggu adalah kegiatan upacara bendera sebab aku selalu menjadi protokoler beberapa tahun kebelakang, tapi mulai saat ini aku mencaoba meregenari petugas berupa untuk melibatkan seluruh pemuda yang ada di area tempat tinggalku. Menjadi orang yang bermanfaat untuk area tempat tinggal terlebih dulu adalah langkah kecil menjadi pahlawan masa kini versiku.

Dirgahayu Indonesia ku. Merdeka !

CONVERSATION

0 komentar:

Post a Comment