Menolak Perjodohan 💔

Hari ini akan  selalu ku ingat sampai kapan pun karena malam itu selama 25 tahun untuk pertama kalinya nangis kejer di hadapan papa.

Hal ini terjadi karena aku merasa mendapat sebuah tekanan yang seolah mengharuskan aku untuk mengiyakan sebuah saran, mungkin juga saat itu aku sedang dalam kondisi stress ringan akibat situasi kerjaan yang beberapa hari sebelumnya sudah sangat sibuk dan bisa ku bilang itu menjadi akar permasalahan lalu efeknya merasa lebih sensitif terhadap hal apapun yang menambah beban pikiran. Selain itu aku juga selalu mengalami penolakan dalam hal apapun, ibarat “senggol bacok” seperti masalah kecil bisa jadi masalah besar sampai marah-marah ke orang yang baru di kenal. Yang paling parah membuat diri semakin melow dan insecure.

Jadi sejujurnya permasalahan ini tentang perjodohan ! 24 tahun dalam kamus kehidupanku perjodohan adalah hal yang sangat menyebalkan tapi diusia 25 tahun tanggapan itu berubah setelah bertukar pikiran dengan salah seorang teman kerjaku yang sudah berstatus ayah beranak 3, beliau open minded bahkan bisa ku bilang sangat kekinian banyak hal serius yang sering kami bahas saats santai di kantor, pak Lutfi namanya.

Ketika dalam perjalanan menuju kembali kekantor setelah kunjungan lapangan aku bercerita perihal teman yang akan menjodohkan aku dengan temannya dengan embel-embel perkenalan pertama adalah usia beda 8 tahun dengan ku tapi laki-laki itu sudah sangat sukses dan memiliki banyak uang. Jujur disini aku muali merasa inscure apakah aku terlalu tua sampai direkomendasikan dengan yang juauh lebih tua ?, apakah aku terlalu tidak laku ya sudah seadanya lelaki aja ?, apakah aku sudah tidak pantas mendapat rekomendasi laki-laki yang seusia atau minimal 1 tahun lebih tua dari aku ? yang masih muda dan kinyis-kinyis ? apa sudah gak pantes ? YaAllah se miris itu aku ?. Bisikan-bisikan itu yang membuatku semakin over thinking and yes I’m totally insecure, sedih banget !

Yang menjadi pertanyaan adalah om itu ada kendala apa sampai usia tersebut sudah sukses tapi sulit mencari jodoh ? padahal dengan kesuksesan bisa di jadikan senjata untuk mencari pasangan seusia atau minimal 1 tahun di bawahnya. I think there’s something wrong with him but I don’t wanna know about that, I really sorry to say that karena memang sudah over thinking and I can’t to be calm.

Cerita itu mendapat tanggapan dari pak Lutfi dengan nada bicaranya yang santai tapi serius sebenernya itu bukan hal yang salah mbak, coba saja respon hal itu dengan baik seperti layaknya rejeki yang bisa datang dari mana saja begitulah jodoh, urusan akhir keputusan itu sepenuhnya ada di mbak karena tidak memungkiri teman juga bisa membawa rejeki untuk kita “.

Sejak saat itu aku mulai mencoba berdamai dengan kalimat perjodohan, menghapus pikiran-pikiran negatif tentang itu. Tanggapan itu disetujui sepupu ku juga, dia seorang guru BK yang saat itu pun sedang dalam masa yang sama denganku banyak dijodohkan oleh teman-temannya. Pesan darinya hanya “ jangan judes atau ketus pokoknya ke laki-laki, respon dengan baik dan elegant tunjukan bahwa kita wanita yang baik “. Sebagai orang yang sedang butuh pengarahan tentu aku melakukan saran itu.

Bulan September adalah kali pertama aku menerima tawaran untuk di kenalkan dengan laki-laki oleh kakak ipar, I don’t have any expectation about this, aku terima karena aku sangat senang berkenalan dengan orang baru dalam artian to be a good friend and once again no one expectation I have. Sempat sih memang merasakan sinyal-sinyal perjodohan di awal percakapan melalui cara kakak ipar yang menjelaskan detail tentang laki-laki ini tapi pikiran itu aku sangkal karena ku rasa kakak ipar tau kalau aku belum berifikiran untuk menikah, karena setiap kali datang kerumah kami bercerita perihal ini di kamar berdua. 

Percakapan di awal, ipar seperti ingin melihat seberapa mau aku menerima laki-laki itu. Ipar mengirimkan foto dan sedikit berbagi cerita tentang latar belakang laki-laki itu. Padahal kalau pun juga tidak sedetail itu aku tetap akan mau untuk berteman.

Singkat cerita obrolan melalui WA kita lalui hanya dalam waktu singkat tidak lebih dari seminggu dan tidak intens, salah satu penyebabnya karena aku sibuk dengan kerjaan yang saat ini memang mengharuskan aku bekerja dari pagi sampai sore di depan leptop beda dengan tugas kerja sebelumnya yang banyak memiliki waktu kosong. Hal itu terjadi bukan hanya ke dia tapi juga kesempatan membalas pesan WA teman-teman ku semua, mungkin waktuku hanya singkat dan beberapa percakapan saja kecuali tentang hal sangat penting yang perlu tanggapan seius seperti kerjaan dan curhatan teman yang genting yang akan ku ladeni WhatsApp-nya.

Hal mengejutkan datang dari pesan WA laki-laki itu yang menyampikan keinginannya untuk datang bersilaturahmi kerumah dan aku menolak secara tersirat dengan menyebutkan aku tidak pernah ada di rumah setiap minggu itu bukan alasan tapi memang kenyataannya. Aku dan teman komunitas pemuda di area tempat tinggalku sedang memulai kegiatan sosial lagi setelah terhalang oleh pandemic ini dan mencoba untuk konsisten setiap minggu. Alhamdulillah berjalan hingga sekarang, doakan saja semakin konsiten untuk berbuat baik ke sesama.

Mungkin untuk sebagian kamu yang membaca ini beranggapan tidak masalah jika hanya sekedar bersilaturahmi tapi untuk aku pribadi ini masalah karena jauh kebelakangan aku berkomitmen dengan diri sendiri untuk tidak membawa atau menerima laki-laki baru datang ke rumah dengan maskud mencegah fitnah tetangga soal aku yang di usia segini masih bergota-ganti membawa laki laki kerumah. Aku hanya ingin mengurangi beban orangtua agar tidak mendengar mulut tetangga yang mengusik keseharian ortu karena masalah atas namaku. Sebelumnya mama sudah mendapatkan wejangan dari tetangga untuk mengamalkan sebuah doa agar enteng jodoh yang di tujukan ke aku karena melihat teman seusia ku sudah menikah dan punya anak sedang aku pacar saja tidak ada. Tetangga bersikap seperti itu karena anak perempuannya yang satu tahun lebih tua dariku akan segera melakukan lamaran tapi ujungnya gagal juga, sorry to hear that !. Percaya atau tidak mamaku kepikiran dan tidak tenang karena terpengaruh. Seolah aku, anak perempuannyanya seret jodoh ! nauzubillah !.

Kemudian ipar yang mengenalkan menanyakan progress tahap perkenalan kami juga berusaha menjadi perantara dan meyakinkan aku bahwa dia sudah merasa cocok dengan aku jadi menyarankan aku untuk menerima tujuan silaturahminya. Aku sangat berterimakasih untuk hal ini terhadap ipar yang sangat peduli dengan kesendirianku tapi seharusnya ipar paham dengan ceritaku sebelum-sebelumnya yang belum ada keinginan untuk menikah.

 

Ada yang bilang jangan kamu menolak sesuatu supaya jalan kedepannya lancar, disini kami belum ada ikatan serius jadi penolakan itu bukan sebuah masalah yang perlu di takutkan. 

Aku tumbuh dengan karakter yang lebih condong keketurunan papa yang tipenya berani untuk menyampaikan sesuatu secara gamblang (speak up), percaya diri, to the point dan tidak mudah di goyahkan kalau sudah memiliki keinginan. Jadi penolakan itu aku sampaikan ke ipar secara jujur.

Tidak akan memberi harapan palsu dengan memperbolehkan dia datang atau merespon percakapan melalui WA terus menerus hanya karena gak enak hati. Kalau engga ya engga ! itu lebih baik jelas di depan supaya tidak timbul permasalahan yang akhinya membingungkan.

Penolakan ku juga memiliki dasar, salah satunya memang aku belum siap untuk berkomitmen, aku masih senang dengan kegiatan ku sekarang yang baru banget ngerasain bisa beli ini itu dengan uang sendiri, bisa bantuin orang tua dan yang lebih penting masih pengen lanjut study S2 lanjut traveling sesuka hati. kehidupanku bukan sebatas kuliah-kerja-menih tapi i have a lot of dream ! aku sadar kok semua itu juga ada batasnya supaya tidak terlalu terlena dengan kesendirian.

Sangat merasa sedih saat itu.  Ibarat kamu sedang membangun sebuah usaha dan kamu baru aja merasakan hasil dari usahamu itu tiba tiba bisnismu itu di tutup paksa ! sedih banget kan pasti ? ya mungkin semacam kalau dijelaskan.

Hal yang membuat aku nangis kejer pertama kalinya di hadapan papa adalah karena mama yang mulai goyah dengan pendiriannya berkata “ sudah perbolehkan saja kalau hanya bersilaturahmi, mama takut terjadi apa-apa sama kamu. Apalagi jamannya begini “ aku yang keras kepala jawab lantang “ ya sudah gak apa-apa tapi mama yang menemui, urusan ada apa-apa aku gak pernah takut aku punya Allah “ .

Man ! mamaku sudah kemana-mana mikirnya. Jadi sampai sini pahamkan andai aku tidak membatasi diri untuk membawa laki-laki kerumah ? betapa pentingnya menjaga ketenangan hati dan pikiran mama.

Ketika mama mulai goyah aku sedih dan merasa sudah tidak ada lagi yang berpihak dengan aku tentang misi kedepanku. Ditambah lagi omongan pedas kakak pertama yang bilang “kenapa cemen banget untuk nikah ? apa yang kamu takuti ? apa yang kamu tunggu ? kamu nuggu kakak kedua mu nikah duluan ? keburu busuk kamu ! . Dengar kata-kata itu kayak di sayat pakai silet loh hatiku, sumpah ! Dan merasa perjodohan adalah hal sensitif untukku. Seolah merasa yakin lagi kalau pemikiranku 24 tahun kebelakang bahwa perjodohan adalah hal yang menyeramkan.

Tapi aku paham kakak dan ipar hidup di lingkungan yang usia 18 tahun menikah itu wajar dan beranggapan wanita gak harus sekolah tinggi unjungnya juga balik ke dapur ibarat 3M wanita Jawa itu bisa masak, macak (make-up), manak (punya anak) aja sudah OK ! Culture itu yang akhirnya  berpengaruh ke tanggapan dan ucapan mereka saat tahu aku menolak perjodohan itu.

Perihal 3M Aku pun tidak menyalahkan pemahaman itu karena itu sudah menjadi sikap dasar wanita, tapi untuk menjadi wanita yang mampu bertanggung jawab mendidik dan membersakan anak-anaknya kelak alangkah baiknya didasari latar belakang pendidikan yang baik pula. Jadi adanya wanita yang ingin berpendidikan tinggi dan aktif meningkatkan kualitas diri di era begini sudah membumi dan menjadi hal yang biasa.

Bagiku keinginan untuk segera menikah bukan terburu-buru kerena usia tapi karena kesiapan mental juga finansial.

Ada yang bilang jangan menunggu kaya baru menikah tapikan apapun butuh modal jadi wajar kalau finalsial juga menjadi pertimbangan. Ada juga yang bilang jangan terlalu banyak memilih nanti kelamaan karena memang tidak ada yang sempurna. Bukan pemilih tapi lebih selektif saja. Sebagai wanita yang bisa mencapai di titik seperti ini dan banyak perubahan juga pencapaianhidup dari sebelumnya  tentu butuh penghargaan untuk diri sendiri dengan mendapatkan pasangan yang setidaknya sejalan sepemikiran itu saja.

Pemahaman ku ini sejalan dengan apa yang papa pikirkan, malam itu aku jadi tega melakukan pemaksaan ke papa untuk mendengarkan keluhanku tentang ucapan kakak yang menyakitkan dan saran dari ipar yang seakan menekan aku untuk tetap bertahan. Padahal aku pun sudah bisa memutuskan apa yang harusnya aku lakukan jadi tidak perlu arahan, bukan menyombongkan tapi aku wajib mengungkapkan apa yang aku rasakan supaya tidak ada kesalah pahaman dan pengharapan.

Papa bilang “ ya sudah kalau kamu belum siap sampaikan ! kamu masih ingin bebas katakana! gak ada yang bisa melarang, kamu yang paling tau karena kamu yang akan menjalani ! kalau engga ya engga ! jangan di perbolehkan kesini karena akan terkesan memberikan sinyal hijau “. Mendengar hal itu rasanya lega seperti disuntik energi untuk kembali tenang.

Papa memang selalu menjadi tempat pelipur lara juga menjadi tempat yang dituju untuk betsandar dari segala kelelahan dan kerumitan kehidupan.

Aku berharap tidak akan ada lagi perjodohan yang mengsuik pikiran dan ketenangan karena semua itu akan berpengaruh ke kegiatan harian dan menjadi beban. Aku doakan kamu yang sudah menyempatkan membaca tulisan ini selalu dalam lindungan Tuhan dan semoga tidak terjadi ketersingungan dari postingan tulisan ini 💕.

🏠  : Didalam kamar sambil sesenggukan

🗓️ 29 September 2019

⏰ 18.30

Menolak Perjodohan 💔 Menolak Perjodohan 💔 Reviewed by wita mannoradja on September 30, 2020 Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.