Melawan Sifat Konsumtif


Di era milenial saat ini sebutan sifat konsumtif sudah tidak asing lagi, lalu sebenarnya apa sih arti dari sifat konsumtif itu ?.

Sifa Konsumtif adalah kebiasaan seseorang bersikap berlebihan dalam membeli sesuatu secara tidak terencana sehingga boros dalam menggunakan uang hanya sekedar untuk mendapatkan barang-barang yang mereka inginkan bukan yang dibutuhkan dan hal itu bisa menjadi simbol status kehidup yang katanya "istimewa". 

Hal ini banyak terjadi di kalangan milenial yang ingin memenuhi hasrat sesaat supaya dibilang gak ketinggalan jaman, padahal hal ini bisa menjadi sebuah penyakit yang menyusahkan. Kenapa bisa begitu ? Ya dong ! Namanya hasrat/nafsu/keinginan kalau sekali dipenuhi pasti bakal ketagihan. Apalagi sifat manusia yang gak pernah puas pasti terus menerus pengen dan kalau terbiasa menuruti kemauan bakal semakin "ngelunjak". yang paling parah memaksa diri sendiri untuk memenuhi keinginan tersebut saat itu juga. Kalau kondisi ekonomi stabil sepanjang masa mungkin tidak menjadi masalah tapi kalau sampai memaksakan keadaan dan numpuk hutang kan kasihan !.

Timbulnya sifat konsumtif ini terjadi karena beberapa faktor. Apa aja sih kira-kira ? Sharing yuk 😉

1. Sosial & Budaya.
Faktor utama adalah pengaruh dimana kamu tumbuh dan berkembang, terutama dalam lingkup sosial budaya yang menimbulkan sebuah kebiasaan atau sebuah kondisi pertama kali yang di ajarkan oleh orangtua. Seperti apakah kondisimu, apakah dikelilingi oleh orang-orang yang terbiasa mampu mengontrol keuangan dengan baik atau yang menghambur-hamburkan uang ?. Semua itu akan mempengaruhi pada kehidupan kedepan.

2. Kondisi Ekonomi.
Biasanya orang yang merasa mudah dalam mendapatkan uang akan merasa lebih muda juga membelanjakan uangnya. Seolah berkata "ah bulan depan juga bakal gajian lagi, kapan lagi sih belanja sesuai keinginan" atau "ah santai uang bisa di cari lagi". Nah kalimat itu tanpa disadari akan menjadikan diri lebih boros karena merasa selalu berada di kondisi ekonomi yang baik. Padahal sebenarnya hidup berputar ada kalanya perekonomian tidak stabil dan kondisi tidak terduga kapan saja bisa terjadi. So, lebih baik berfikir matang-matang sebelum membeli barang apapun.

3. Gaya Hidup.
Gaya hidup masing-masing orang berbeda, ada yang bermewah-mewahan atau ada yang memilih sesederhana mungkin. Mengambil contoh dari diriku sendiri yang dulu saat mulai beranjak remaja ketika izin ke orang tua untuk pergi ke salah satu mall ternama di Malang bersama teman-teman, atau sekedar kuliner, nonton bioskop dan traveling setiap weekend selalu dilarang karena saat itu aku masih berstatus pelajar belum berpenghasilan. Jujur saat itu pengen banget seperti teman-teman sebaya yang diizinkan dan diberi uang hangout secara cuma-cuma menikmati hidup bermewah-mewahan tapi keadaan tidak mengizinkan. Haha !
Setelah sekali duakali mencoba izin lagi dan selalu tidak di izinkan akhirnya aku yang menyerah dan dirumah saja. Selain alasan memang kondisi ekonomi kami yang tidak stabil orang tua juga membiasakan diri untuk menerapkan gaya hidup sesederhana mungkin, memahami antara kebutuhan dan keinginan.

Sebuah tekanan kebiasaan di masa lalu itu sangat berpengaruh besar di kehidupan saat ini, di usia dewasa sekarang meskipun sudah berpenghasilan dan mampu membeli apapun. Bersyukur tidak memiliki sifat konsumtif, cukup membeli barang yang dibutuhkan bahkan tidak akan membeli baru kalau barang itu tidak benar-benar rusak. 
Mungkin ada yang bilang "pelit banget" ! Haha
gak apa-apa memang kenyataan seperti itu. Sekali membeli barang ORI dan mahal boleh saja asal memang butuh dan bisa dipakai sampai 3-4 tahun kedepan. Menurutku itu jauh lebih baik, terus untuk barang yang bermanfaat aku lebih banyak di kasih saudara atau teman. Mulai dari baju, sepatu dan tas. Ada yang tiba-tiba ngasih aja atau kado ulangtahun.

Dan setelah paham konsep hidup minimalis jadi setiap kali dapat barang baru selalu ada barang yang harus aku tinggalkan. Jadi tidak ada barang yang menumpuk. Sekarang juga banyak tempat yang menerima sumbangan barang atau pakaian bekas layak pakai. Itu menjadi sarana yang ku tujuh untuk mnegurangi barang yang tidak lagi kupakai.

4. Korban iklan.
Diera digital saat ini perkembangan sesuatu hal yang baru sangat mudah didapatkan, terutama dalam hal fashion. Instagram adalah media yang paling banyak memberi efek besar untuk perkembangan fashion. Banyak influenser dengan mempromosikan baju kekinian yang banyak membuat nitizen tergiur dan akan membeli. Lagi-lagi karena sifat konsumtif yang mendorong diri supaya terlihat beda dari yang lain dan tentu supaya juga terlihat lebih menarik. Sebuah kebanggan sesaat.
Selain fashion, hal baru yang banyak di gilai kaum milenial adalah tempat nongkrong Instagramable. Semakin banyak orang mengunjungi lokasi itu kaum-kaum konsumtif pun akan mengunjungi. Lagi-lagi karena supaya tidak ketinggalan jaman bukan karena kebutuhan.

Kira-kira bisa gak sih kita melawan sifat konsumtif ini ? Tentu bisa dong ! Sharing lagi yu !

1. Membuat Prioritas Kebutuhan.
Perlu membuat daftar hal apapun yang kamu inginkan, tuliskan saja apapun itu mulai dari barang yang di inginkan sampai liburan impian. Kemudian kelompokkan antara keinginan dan kebutuhan.

Ibaratnya, butuh itu selalu perlu tapi perlu tidak selalu butuh.


2. Membuat Anggaran Belanja.
Setelah ketemu kelompok kebutuhan kemudian wajib membuat anggaran belanja, muncul nominal harga per kebutuhan. Kalaupun tidak tepat sesuai harga pasaran boleh lah, yang terpenting tidak jauh dari harga yang dianggarkan. Selain bisa mengontrol pengeluaran juga anggaran belanja ini bisa menjadi patokan pasti apa saja yang akan kamu beli jadi tidak akan membuat keluar dari jalur kebutuhan. Biasanya aku mewujudkannya dalam bentuk catatan belanja.

3. Pola Hidup.
Terapkan pola hidup sewajarnya atau seseederhana mungkin hanya mengutamakan kebutuhan bukan keinginan, tentu berpegang teguh di nomer satu (prioritas kebutuhan). Buang jauh rasa gengsi yang hanya ingin terkesan mewah dan hanya untuk menarik perhatian orang lain. Sebenarnya tidak akan pernah ketinggalan jaman kok karena kehidupan berputar dan era tersebut hanya sesaat dan menghilang. Lebih baik konsisten dengan pola hidup sewajarnya. Konsisten menjadi dirimu sendiri tanpa perlu memupuk rasa gengsi rasanya itu jauh lebih baik.

Yuk ! segera melawan sifat konsumtif untuk kamu yang mungkin merasa dirugikan dengan  sifat tersebut dan yuk ! tetap konsisten untuk kami yang sudah lebih bisa mengutamakan kebutuhan daripada sekedar keinginan.



Artikel ini murni pengalaman penulis secara pribadi. Jika dirasa tidak sepemikiran dengan pembaca boleh kita saling berdiskusi dan berbagai melalui komen dibawah.
Selamat membaca 💕

.

Artikel ini diikutsertakan dalam kegiatan komunitas 1minggu1cerita
Minggu ke-45 dengan tema "Melawan"




Melawan Sifat Konsumtif Melawan Sifat Konsumtif Reviewed by wita mannoradja on November 08, 2020 Rating: 5

2 comments:

  1. paling umum keknya gaya hidup ya kak. apalagi warga +62, kebanyakan hidupnya kebanyakan gaya, padahal sebenernya terpaksa karena gengsi aja, hihi..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul ! Gengsi ! Itu sih yang susah kak. Makasih ya sudah membaca 💕

      Delete

Powered by Blogger.